Peluang Ekspor Biji Kering Kakao, Berau Perlu Perluas Kebun Kakao

img

Bupati Memperlihatkan Sertifikat IG Kakao

POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG REDEB- Kabupaten Berau harus kerja keras lagi dalam mendukung perluasan pembukaan kebun Kakao,pasalnya produksi dari beberapa Kampung andalan sudah terbukti produksi Kakao biji keringnya masih belum bisa memenuhi kebutuhan ekspor ke luar yakni negara Itali dan Jepang.

Kampung dipercaya menyuplai kebutuhan ekspor tersebut sesuai dengan MoU dengan Berau Cocoa yakni Kampung Suaran. Permintaan Kokoa biji kering diprediksi lebih meningkat lagi setelah kakao asal Bumi Batiwakkal resmi menerima sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM melalui Kanwil Kemenkumham Kalimantan Timur (Kaltim).

” Setelah bersertifikasi maka kakao Berau  bisa memasuki belahan dunia Eropa, Asia dan merambah ke Timur Tengah karenanya  pengembangan perkebunan kakao di  harus di perluas,”jelas Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Lita Handini.

Data per akhir tahun 2021 tambah Lita Handini luas areal dan produkstifitas tanaman perkebunan kakao Berau  terdata TBM 301,0, TM 614,8, TTM/T 68,5, mumlah (Ha) 984,30, produksi (kg) 513,634,produktivitas 835,45 atau sekitar 1641 biji kering.

“Karena pangsa pasar kakao masih terbuka, dan menjanjikan bagi para petani Kakao nantinya, baik dari sisi harga dan jumlah, oleh karena itu saya berharap karena kakao Berau sudah memiliki kualitas bagus, kedepan pemasaran bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional saja, tetapi juga internasional,”ujar Lita lagi menjelaskan.

Bupati  Berau Sri Juniarsih Mas saat diminta tanggapannya baru baru ini disalah satu acara menjelaskan keberadaan IG maka pengembangan tanaman kakao di Berau harus diperluas, tujuannya supaya hasil produksi Kakao bisa meningkat.  Kedepan dengan adanya sertifikat IG maka harga kakao dapat disetarakan dengan harga premium, meski saat ini harga kakao Berau masih fluktuatif.

“Kita patut berbangga dan bersyukur hasil perkebunan daerah kita tercinta ini khususnya kakao meroket. Tentu ini akan turut meningkatkan nilai jual hasil pertanian masyarakat Bumi Batiwakkal," jelas Bupati.

Dalam hal perkebunan, sekarang hingga kedepan semua komoditi berpotensi di Berau terus akan dikembangkan. Namun diperjalanannya apabila sudah mandiri, seperti sawit akan tetap dipantau tetapi bantuan tidak menjadi prioritas lagi.

“Sebab masih sangat banyak komoditi di sektor perkebunan perlu disuport, baik berupa fasilitas, bibit maupun pupuk agar berkembang dan maju tentunya dengan tetap berbasis teknologi. Sehingga kedepan harapan saya bukan hanya sawit, kakao, lada yang bisa menuai berkah buat masyarakat Berau, tetapi semua komoditi berpotensi yang dikembangkan didaerah kita tercinta ini. Makanya program program dari OPD terkait yakni Dinas Perkebunan untuk menjawab itu semua mudahan terealisasi dengan baik dan maksimal,” tuturnya. (advetorial/sep)